Padukuhan Gamol : Muncul dari Sebutan Gamel

August 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Padukuhan Gamol terletak di wilayah Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Nama “gamol” terasa unik dan menarik untuk digali sejarahnya. Dengan demikian ada untaian rantai peradaban Dukuh Gamol yang terus tersambung dari generasi awal hingga kini. Nilai-nilai luhur dipertahankan, diperjuangkan, bahkan ditumbuhkembangkan oleh setiap generasi. Karakteristik menjiwai masyarakatnya terbentuk dari kondisi geografis setempat.

Setelah menelisik, menggali informasi dari wawancara langsung dengan nara sumber: Dukuh Dusun Gamol Bapak Tamtama, Kepala Desa Balecatur periode 1996-2000 Bapak Bambang Wahyu Untoro, dan pelaku seni senior Bapak Heruno, sumber pustaka Wikipedia, dan penelusuran media online dapat diambil kesimpulan. Bahwa Asal mula nama Dukuh Gamol dari bahasa Jawa dan Sansekerta memel, mbel, yang mempunya makna lunak atau empuk.

Nama tersebut sesuai dengan kondisi geografis dan struktur tanah yang ada di Dukuh Gamol. Daerah subur ini kaya mata air karena letaknya berada di dataran rendah. Beberapa warga mempunyai belik, bahkan menurut cerita ada sumber mata air yang ditutup dengan gong.

Produk kesenian tradisional ada yang menjadi ikon Dukuh Gamol, yakni tari Reo-reo dan Pasukan Kuda. Selain itu potensi kesenian rakyat yaitu: ketoprak, wayang orang, jatilan, salawatan, tari kelana topeng.

Berkat pendampingan dari CSR Pertamina Rewulu, Dukuh Gamol diresmikan sebagai Desa Wisata dan Budaya atau disingkat Deswitadaya. Selain mengangkat potensi kesenian dan budaya tradisional, juga mengangkat taraf hidup perekonomian masyarakat dalam bentuk budidaya peternakan khususnya kambing etawa, pertanian, agrowisata.

Karakteristik masyarakat yang lunak, tenggang rasa dan guyub bergotong-royong menjadikan Dukuh Gamol maju dan menjadi destinasi desa wisata dan budaya, meski tidak menawarkan keindahan alam. Namun, sebagai tempat edukasi dan merubah pola pikir serta perilaku masyarakat.

Penulis: Praba Pangripta
Tenaga Ahli Penulis: Suhindriyo
Foto: Praba Pangripta